Isa dan Indomie-nya

Isa.

Istrinya selalu yakin Isa lebih pandai memasak daripadanya.

Tapi faktanya Isa hanya ndobos. Isa hanya pencitraan. Ia hanya memakai feeling dalam memasak.

Ditanya, masakan ini bumbunya apa. Isa menjawab sesuka hatinya. Kalau jatahnya Isa yang memasak, suka suka dia saja mencampur bumbu. Kalau cocok ya syukur, kalau failed ya sudah, diemplok saja, eman je.

Satu-satunya masakan yang Isa pandai menyajikannya hanyalah Indomie. Hanya modal gunting, Indomie siap tersaji. Soal rasa siapa sanggup mendustakan rasa Indomie.

Di rumah, Isa dan istrinya punya jadwal rutin ngeIndomie: 2 pekan sekali. Sekali jadwal, Isa sanggup mengabis 3 bungkus Indomie goreng plus irisan rawit setan. Ditambah limpahan istri jika sudah tak sanggup mengabiskan jatahnya.

Namun, setelah punya anak Isa harus lebih bijak dalam perIndomiean. Biasanya Isa akan ngumpet-ngumpet makannya agar si anak tidak ngiler. Tapi kalau terlanjur ngiler ya sudah, dibuatkan saja mie telor dengan bumbu tanpa MSG. Dan biasanya lahap makan sendiri.

Duh keluarga (Indo)mie

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, Kau, dan Sepatah Kata Cinta

Piagam Pemboikotan Terhadap Kaum Muslim dan Pembatalannya*

Tarbiyah Bukan PKS